Menara Jam Kuno di Indonesia. Ada yang Disebut Big Ben Juga!

Image 3
Blog

Ketika mendengar kata kuno, mungkin beberapa dari anda teringat akan sejarah Indonesia, khususnya sejarah penjajahan. Penjajahan yang berlangsung selama kurang lebih 300 tahun memang berdampak besar. Meski begitu, beberapa peninggalan sejak jaman penjajahan masih berdiri hingga sekarang, salah satunya bangunan menara jam kuno. Terbilang bisa mengingatkan pedihnya jaman penjajahan, tapi juga sebaliknya, sebagai pengingat pahlawan yang berjuang di masa itu.

Sebenarnya, banyak peninggalan bersejarah berupa infrastruktur dan juga memiliki ceritanya masing-masing. Tetapi kalau soal menara jam, sedikit masyarakat era sekarang yang mengetahuinya. Sebut saja Kantor Gubernur Jawa Timur di Surabaya dan Jam Gadang di Bukittinggi Sumatera Barat. Banyak yang tidak mengetahui bahwa bangunan tersebut adalah bangunan berharga dan memiliki cerita tersendiri.

Menara Jam di Atas Kantor Gubernur Jawa Timur.

Bangunan yang konon dijadikan mercusuar ini dulunya memang dibangun oleh arsitek dari Belanda. Pada saat itu, gedung tersebut memang yang tertinggi yang digunakan untuk mengawasi kapal laut datang dan pergi dari pelabuhan Tanjung Perak. Jika seluruh gedung dilihat dari depan, memang mirip seperti bangunan Eropa, bahkan ada yang mengatakan mirip dengan kapal laut Eropa.

Menara jam yang dibangun diatas gedung memang awalnya digunakan oleh orang Belanda untuk mencatat waktu kapal datang dan pergi, serta terdapat lonceng yang akan dibunyikan ketika kapal masuk pelabuhan. Bagi orang-orang Belanda, disiplin waktu merupakan hal yang sangat penting, sehingga menara jam ini sangat diperlukan.

Saat menaiki menara dan melihat isi dari jam, bisa dipastikan bahwa mesin jam tersebut adalah mesin mekanis. Mengingat bangunan ini berdiri sejak 1928, tentu saja jam mekanis adalah hal yang lumrah. Biaya yang diperlukan untuk perawatan dan perbaikanpun terbilang cukup tinggi, karena jika jam tersebut rusak, perlu teknisi khusus dari luar negeri untuk memperbaikinya.

Jam Gadang. Disebut-sebut Sebagai Big Ben.

Bagi masyarakat daerah Jawa, tentu banyak yang belum mengetahui apa itu Jam Gadang. Bangunan menara jam dengan atap yang beberapa kali diganti saat pindah kepemimpinan, inilah Jam Gadang. Kata gadang sendiri memiliki arti besar, jadi namanya Jam Besar, sesuai dengan bentuknya. Bergantinya atap yang dimaksud adalah, ketika era penjajahan Jepang, dan kembali pada merdekanya Indonesia. Awalnya, atap yang dibangun berbentuk bulat khas menara eropa dengan patung ayam jantan diatasnya. Hingga kini setelah kemerdekaan, atapnya diganti dengan bagonjong ciri khas Minangkabau.

Tidak seperti menara jam pada Kantor Gubernur Jawa Timur yang digunakan untuk keperluan penting mencatat waktu, menara ini dibangun sebagai hadiah sekertaris Belanda yang menjabat di Bukittinggi. Arsiteknya sendiri berasal dari Minangkabau yang akhirnya berhasil menyelesaikan bangunan tersebut pada tahun 1926. Saat itu, konstruksinya tidak menggunakan logam dan semen, hanya menggunakan campuran batu kapur, putih telur, dan pasir.

Terdapat 4 tingkat pada menara jam tersebut. Tingkat pertama sebagai ruangan petugas, tingkat kedua sebagai tempat bandul pemberat jam, tingkat ketiga sebagai tempat mesin jam, dan tingkat keempat adalah puncak dari menara dimana lonceng dipasang. Jika melihat tempat mesin jam, terdapat juga label nama produsen mesin jam ini.

Secara tampilan bangunan, sebenarnya sangat jauh berbeda dengan Big Ben di kota London negara Inggris. Lalu, mengapa ada yang menyebutkannya sebagai Big Ben? Ini karena mesin jam yang digunakan adalah mesin langka. Di produksi oleh pabrik Vortmann Recklinghausen hanya dua unit saja. Dipasang di Jam Gadang, dan yang satunya lagi dipasang di Big Ben. Karena itu orang-orang sekitar menyebutnya sama seperti Big Ben karena mesin jam yang digunakan.

Sama halnya seperti mesin menara jam pada Kantor Gubernur Jawa Timur, Jam Gadang juga menggunakan mesin mekanis yang memerlukan biaya tinggi untuk perawatan dan perbaikannya.

Related Posts: